Dunia Kita

Dunia Kita
Dengar ceritanya, Baca suaranya

Rabu, 22 Juni 2011

When That Hope Was Destroyed

Hidup ... cinta ... galau???

Ini Tentang Dunia Kita

Dahulu hidup begitu menyenangkan, setidaknya saat masa kecil kita. Setiap hari adalah waktu bermain, setiap hari adalah waktu yang menyenangkan. Kita serasa memiliki dunia kita sendiri, kita berada di dalamnya dan tak seorangpun dapat menarik kita dari sana kecuali, waktu.

Waktu membangunkan kita dari tidur, menyeret kita keluar dari dunia kecil kita untuk melihat betapa besar dunia ini. Hal-hal baru silih berganti mengisi pikiran kita. Kita ikut terbuai dengan hal baru ini. Hingga akhirnya kita lupa untuk "bermain" seperti dulu. Kita lupa akan dunia kecil kita yang menyenangkan. Segalanya terasa berbeda hingga akhirnya kita sadar, bahwa kita sudah tidak mengenali diri kita lagi. Kita sudah tidak tahu lagi di mana dunia kita.

Hilangnya dunia kita membuat kita mencari kembali apa yang telah hilang itu, tidak peduli sejauh apapun, pasti akan kita cari. Hal yang membuat kita kuat untuk mencari adalah cinta. Cinta menuntun kita untuk bisa menemukan dunia kita. Namun sekeras apapun usaha kita dan cinta, kita tidak akan menemukan dunia kita yang dulu ... dunia kita yang dahulu sudah berada di tempat lain yang tidak bisa terjamah oleh diri kita dan cinta kita sendiri. Dunia itu adalah MAC & USOVA.

Mereka mahluk yang "kampung", mereka biasa saja di mata orang-orang high class, menurut diri mereka. MAC & USOVA juga tidak seindah langit malam ataupun alunan biola classic. Namun jika anda melihat dunianya, jika anda melihat pancaran sinarnya, maka sedikit banyak anda akan percaya bahwa keajaiban itu ada, bahwa surga itu ada dan anda akan yakin bahwa anda belum kehilangan dunia anda. Merekalah bukti nyata bahwa hati anda belum mati, bahwa perasaan anda belum tumpul, dan jiwa anda belum musnah.

Mata melihat apa yang tampak di luar, namun hati melihat apa yang dirasa dari dalam. Mulut berbicara apa yang dilihat dari luar, namun nurani mengatakan apa yang dirasa dari jiwa. Hati dan nuraninya membuat penglihatan baru, penglihatan yang hampir sama dengan penglihatan Sang Empu-Nya sorga. Sama seperti Sang Khalik yang tidak ingin kehilangan kita, kita pun tak ingin kehilangan dunia kita, kehilangan MAC & USOVA.

Masalahnya, rasa takut kehilangan ini membuat penyakit baru yang namanya Galau, yang kepanjangannya : Gara-gara Lau (someone). Galau membuat kita tidak sadar bahwa kita belum kehilangan mereka, iya, jika mereka sudah menemukan dunianya (mungkin) tapi satu hal yang pasti, kita tidak benar-benar kehilangan mereka.

Dan jika kita tidak benar-benar kehilangan mereka, apa yang membuat kita GALAU ?
Banyak jawaban jika pertanyaan ini dilontarkan ke publik, masing-masing orang punya persepsinya sendiri. Namun saya yakin, dari semua jawaban benang merahnya adalah kita tidak mau dunia kita "dijamah" oleh orang lain. Betul ? jika salah, maafkan saya, tapi mungkin ada tidak benar-benar serius menginginkannya.

Dunia yang sudah terjamah oleh orang lain sering membuat orang jijik sehingga meninggalkan dunia itu. Dunia itu menjadi tidak ada harganya karena sudah tidak tampak seperti awal kita menemukannya. Dunia itu sudah tidak menjadi tempat yang menyenangkan lagi. Tapi sadarkah anda bahwa bukan dunia yang menyenangkan anda ? tapi andalah yang senang di dalam dunia ? Sekotor apapun dunia kita, seharusnya tidak akan berkurang nilainya bagi diri kita. Sehancur apapun dunia kita seharusnya tidak akan berkurang rasanya bagi diri kita. Bukan karena kita sok baik atau sok orang benar, tapi karena dunia kita sudah menjadi bagian dari hidup kita. Sebelum kita jujur pada diri kita sendiri, jangan kita mengatakan TIDAK kepada dunia kita. Sebelum kita memilih untuk hidup tanpa hal yang menyenangkan, janganlah kita katakan TIDAK kepada dunia kita.

bersambung ... dengan judul yang baru.